pqweenzha

Media pembelajaran 3 dimensi

Posted on: May 8, 2011

contoh media pembelajaran 3 dimensi yang lain yaitu melalui boneka jari, melalui dongeng yang tokoh di dalamnya di bonekakan, contoh dongeng

Gajah yang Pintar

Ada seekor gajah, tubuhnya tinggi, besar, dan gemuk. Belalainya panjang dan kuat. Sepasang gadingnya besar lagi kokoh.

Gajah itu sangat baik hati. Tidak jarang dia memberikan makanan kepada binatang- binatang yang lainnya yang kelaparan. Memberikan pertolongan kepada mereka yang menderita kecelakaan dan kesusahan.

Pada suatu hari, gajag itu mengadakan perjalanan jauh, berkeliling-keliling hutan. Beberapa lama dia berjalan, hingga sampai menemukan harimau yang sedang kesakitan, karena kerobohan pohon yang sudah lapuk.

“ Gajah.. Gajah.. toloong aku!!” pinta harimau sambil menahan kesakitan.

Mendengar teriakan harimau minta tolong, gajah itu langsung mengangkat pohon yang menindih harimau itu denagn belalainya.

“Terima kasih kawan, seandainya kamu tak segera datang menolongku , mungkin aku sudah mati karena himpitan pohon itu, sekali lagi terima kasih.” Ucap harimau

“ Sama-sama, bukankah sesama binatang harus saling tolong menolong”, jawab gajah merendah.

“ Tapi bagaimana sampai kerobohan pohon yang besar ini? ”, tanya gajah

“ Pada awalnya saya berjalan-jalan untuk untuk mencari makn, tapi belum sampai aku mendapatkan makanan, aku sudah merasa lelah. Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti sejenak, melepaskan lelah dengan duduk-duduk di bawah pohon yang sudah kering ini. Ketika ada angin, tiba-tiba pohon roboh dan menimpa diriku. Begitulah ceritanya, “ jawab Harimau.

“ Bila begitu, kamu harus bersyukur karena kamu masih bisa selamat dan hanya mengalami luka- luka sedikit, “ kata gajah.

“ Ya..yaa..kamu benar. Karena rasanya tak mungkin ada binatang lain yang sanggup menolongku untuk mengangkat phon sebesar ini, selain dirimu.” Seru Harimau

“ Sudahlah, kita hidup harus saling tolong menolong “ sahut gajah

Demikianlah, meskipun gajah memilki kekuatan yang sangat besar sekali, yang takkan mungkin dimilki oleh binatang- binatang lainnya, namun ia tetap rendah hati, tak menyombongkan diri. Setelah itu, sang gajah pun mohon diri kepada harimau meneruskan perjalanan.

Tidak jauh dari tempat itu, di dekat bukit sebelah sana, seekor kancil sedang asyik menikmati buah- buah mentimun di kebun pak tani. Beberapa buah mentimun telah dimakannya.

“ Perutku kini sudah kenyang,sekarang aku harus mencari air untuk minum”, Kata kancil.

Si kancil segera meninggalkan kebun itu. Ia berjalan ke arah sungai. Pikirnya didalam hati, ia dapat minum air denagn sepuas-puasnya. Tapi yang ditemuinya? Setelah berjalan sampai ke sungai,ia tidak mendapatkan air sedikitpun disana. Karena saat itu musim kemarau, air sungai menjadi kering. Sehingga tak ada air yang dapat dijadiakn untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering.

Dengan langkah agak gontai. Wajah sedikit sayu dan kesal, si kancil berjalan berkeliling hutan untuk mencari air minum. Beberapa kali ia harus kecewa karena ketika tiba dipinggir rawa, juga tak memperoleh air sedikitpun. Demikian pula ketika ia sampai di tepi danau, ternyata danau yang biasanya airnya melimpah, kini telah kering

Satu- satunya yang belum di kunjungi si kancil adalah sebuah kolam besar yang beradadi tengah hutan.

“ Nah, sekarang aku harus cepat- cepat pergi ke kolam itu, mungkin disana aku akan mendapatkan air minum yang cukup!” kata kancil dalam hati.

Setelah beberapa saat si kancil brjalan melewati padang ilalang dan pohon-pohon jati, tibalah dia di kolam itu.

“ Ternyata benar dugaanku, masih ada air dalam kolam ini, walau tinggal separuh dan wah cukup dalam juga “, guman si kancil.

Kolam itu sebenarnya danau kecil yang cukup dalam ketika pada musim kemarau ainya tinggal separuh sehingga keadaannya seperti sumur besar dengan  dinding terjal.

Tanpa berpikir panjang si kancil langsung terjun kedalam kolam. Hatinya sangat gembira mendapatkan air minum banyak sekali. Ia minum dengan sepuas- puasnya. Tenggorokannya kini telah basah. Saat itu pula, tenaganya terasa pilih kembali. Badannya kini menjadi segar.

Namun apa yang terjadi kemudian? Tindakannya masuk kolam itu merupakan tiindakan yang sangat ceroboh. Ia tidak berfikir bagaimana caranya naik ke atas bila ia sudah ada di dalam kolam. Kolam itu cukup dalam dan dan tak ada tangga tangga untuk digunakan naik. Beberapa kali si kancil mencoba untuk memanjat dinding kolam yang terjal, tapi tidak bisa sampai ke atas.

“ Tolooong..Tolooooong!!”, teriak si kancil

Si kancil tidak bisa berbuar apa-apa. Dia hanya bisa berteriak-teriak minta tolong.

“Tolooong..Tolooong aku!!!”. Teriak si kancil berusaha meminta pertolongan.

Teriakan si kancil rupanya di dengar oleh sang gajah yang kebetulan sedabg berjalan lewat tempat itu.

“ Hai siapa yang ada di kolam??” tanya gajah

“ Aku si kancil sahabatmu “, jawab kancil

“ mengapa kau berteriak- teriak minta tolong!”  tanya gajah

Si kancil tidak nsegera menjawab. Dia berpikir untuk mencari lasan. Rupanya ia tidak mau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Sebab, bila ia mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, pasti ia akan disalahkan oleh gajah karena kecerobohannya. Ia akan meminta gajah untuk turun ke kolam dan dari punggung gajah itu ia akan naik ke atas kolam

“ Tolong aku mengangkat ikan ini” Maka si kancil pun lalu menjawab

“ Apa kamu memperoleh ikan yang besar?” sahut gajah

“ benar-benar!, aku memperoleh ikan yang sangat besar sekali” jawab kancil dengan penuh semangat.

“ Tapi bagaiman caranya aku turun kebawah?” tanya gajah.

“ sebaiknya kamu langsung terjun saja kesini, sebab bila tidak cepat- cepat kamu turuni, nanti ikan ini lepas!” jawab kancil

Gajah berfikir sejenak. Ia berpikir bis asaja ia turun tapi bagaimana caranya naik lagi.

“ Cil.. mana ikan yang kau peroleh itu?” tanya gajah

“ Cepat ada di sepasang kakiku.” Kata kancil

“ kalau aku menolongmu cil, bagaimana nanti caranya aku naik dari dalam kolam yang dindingnya terjal ini?” tanya gajah

Kini kancil tediam. Ia tak menyangka gajah dapat berfikir secerdas itu. Tidak seperti dirinya yang karena kehausan buru- buru terjun ke kolam tanpa memperhitungkan akibatnya.

“ kau hendak memanfaatkan aku ya cil?, hendak menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?” tanya gajah

Kancil terdiam

“ kamu memang harus diberi pelajaran cil” kata gajah sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

“waduh pak gajah tolooong akuu!!!!”, teriak kancil minta pertolongan.

Kancil jadi putus asa . air kolam memang tidak menenggelamkan dirinya  hanya  sebatas lehernya. Tapi lama kelamaan di tempat itu akan mebuatnya mati kedinginan.

“ Ampuuun..Toloooong..Tolooong!”

Hingga menjelang sore tak ada binatang yang mendengar teriakan kancil. Kancil sudah hampir mati kaku karena kedinginan.

“ Adu celaka! Aku benar benar akan mati di tempat ini “kata kancil ketakutan

kancil benar benar ngeri membayangkan akhir hidupnya di tempat itu.lalu kancil berteriak keras-keras.

“ hai langit dan bumi, hai binatang yang ada di hutan, aku bersumpah tidak akan memanfaatkan binatang lain untuk kejahilan maupun kepentinaganku sendiri, kecuali…!”

Ketika mengucapkan kata kecuali , kancil sengaja mengecilkan volume suaranya sehingga hampir tak terdengar.

Tak di sangka gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Kiranya gajah sejak tadi sudah berada di tempat itu dan sengaja menyembunyikan diri. Ia penasaran begitu mendengar ucapan lirih si kancil

“ kecuali apa cil??” tanya gajah tiba- tiba.

Kancil terkejut mendengar dan melihat kemunculan gajah yang tiba- tiba.

“ Oh pak gajah engkau datang  lagi?” kat kancil heran

“ jawab pertanyaanku cil, kecuali apa cil?” tanya gajah penasaran.

“Anu pak gajah, kecuali terpaksa untuk menyelamatkan diri. Karena sebagai hewan kecil nyawa say sering terancam oleh harimau, srigala, buaya yang jahat.

“ Oh begitu “, sahut gajah

“ sekarang kamu sadar dan berjanji tidak akan berbuat jahil , iseng dan perbuatan lain yang merugikan dan mencelakakan binatang lain?”

“Benar pak gajah”, kata kancil

“Betul?” tanya gajah meyakinkan

“ Betul pak gajah saya insyap eh insyaf!” jawab kancil

“Baiklah sekarang aku mau menolongmu cil”. Kata gajah

Lalu binatanag ini menjulurkan belalainya yang panjang untuk menangkap kancil dan mengangakatnya ke atas daratan.

Begitu sampai di atas tanah kancil berkata ambil bersimpuh di depan kaki gajah.

“ Terima kasih pak gajah, saya tak akan melupakan budi baik ini” kata kancil penuh perasaan.

Sejak itu kancil menjadi binatang yang baik. Tidak lagi berlaku iseng seperti yang perna ia lakukan ke[ada binatang- bainatang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

my profil

Categories

calendar

May 2011
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: